Monday , October 14 2019

Digempur E-Commerce, Pelaku Ritel Harus Mampu Beradaptasi

Perubahan gaya berbelanja dari offline menuju tren digital atau online memberikan dampak tersendiri terhadap pelaku ritel konvensional yang menutup gerai usahanya akibat sisi pendapatan yang tidak sesuai dengan target.

Contohnya saja, 7 Eleven, Lotus, dan Debenhams yang tahun lalu sudah menutup gerainya. Disusul dengan beberapa peritel lokal ternama seperti Matahari, dan Ramayana juga memilih untuk menutup beberapa gerainya yang terdapat di daerah.

Menurut pengamat ritel Yongky Surya, bisnis ritel tutup bukan karena minat konsumen rendah, justru bisnis ritel itu tidak ada matinya. Namun, pengusaha harus mengetahui terlebih dahulu apa yang diinginkan konsumen.

Saat ini perubahan besar yang terjadi, yaitu banyak munculnya e-commerce dengan segala kemudahan berbelanja. Selain itu, perubahan gaya hidup atau lifestyle yang menginginkan mal atau pusat perbelanjaan sebagai hiburan, bukan lagi berorientasi pada berbelanja. Hal ini terbukti saat Lotus memutuskan untuk menutup 3 gerainya dan SOGO Karawaci baru dibuka.

“Sebenarnya ini hanya strategi bisnis agar kinerja perusahaan menjadi lebih bagus. Ibaratnya mengamputasi yang luka untuk menghidupkan kembali bagian yang lainnya. Ujung-ujungnya kan menaikkan profit biar investor lebih berminat. Karena kalau ekonomi tidak bagus, investor tidak berminat,” sebut Yongky.

Ritel modern harusnya bisa lebih berubah mengikuti kebutuhan konsumen. Hal ini karena masyarakat sekarang tidak lagi hanya untuk berbelanja, tetapi ingin merasakan suatu pengalaman baru saat pergi ke pusat perbelanjaan.

Contohnya, berbelanja bisa sekalian pedicure-menicure melihat atau memegang barang yang ingin dibeli, dan hal-hal yang tidak bisa dirasakan saat berbelanja online.

Yongky pun menambahkan, pentingnya untuk terus mengganti perubahan pasar dan kebutuhan konsumen yang harus berkembang adalah kunci bisnis ritel untuk bisa bertahan dan keluar dari tutupnya gerai.

“Kita harus bisa melihat kebutuhan konsumen dengan jeli, kreatif, dan juga inovatif. Jadi, industri ritel offline belum bisa dikatakan padam jika bisa mencoba mengikuti kebutuhan konsumen. Karena pasar online sendiri hanya melihat dari diversifikasi pasar,” kata Yongky.

Oleh karena itu, para peritel di Indonesia diharapkan bisa beradaptasi lagi dengan kebutuhan pasar, termasuk dalam menempatkan diri di masyarakat. “Untuk industri ritel jangan pernah putus asa, yang offline harus bisa beradaptasi dan menekankan jati diri toko ritel kita itu di mana posisinya. Memang harus menawarkan ide-ide yang out of the box,” katanya.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta menuturkan, kondisi global dan makro ekonomi memengaruhi daya beli masyarakat. Hal tersebut juga memengaruhi kinerja bisnis, termasuk ritel.

Agar mampu bertahan, Tutum pun menilai, pelaku usaha ritel memilih strategi efisiensi dengan menutup outlet atau gerai yang tak menguntungkan dengan menggantikan lokasi baru. “Menutup outlet yang jelek juga merupakan bagian dari efisiensi,” sebut Tutum.

Tidak hanya sebatas dari kondisi global, persaingan bisnis dengan usaha sejenis dan digital juga ikut memengaruhi sektor ritel.

Oleh karena itu, para pelaku usaha juga harus beradaptasi dengan perubahan. Salah satu contohnya dengan lokasi gerai yang disesuaikan dengan target pasar.

Check Also

Akuisisi Freeport Ke Pangkuan Indonesia

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati bercerita dalam laman facebooknya mengenai perjalanan pemerintah Indonesia mengakuisisi …

 
royal safari
Joody
Al Sharif tourism
Al Sharif oud
juri
Albasha
aljazeerah restaurant
Zahra Aljazeerah
alsadda
Al Marina
bandar
jumaira
andalus
Villa Raja
sam
shisha
jumbulu