Monday , October 14 2019

Menyelami Kehidupan Masyarakat Arab di Kampung Al-Munawwar

Sumatera Selatan memang unik. Bukan hanya karena ragam kuliner dan tempat wisatanya, tapi juga karena komposisi masyarakatnya yang seperti gado-gado, beragam. Coba pikirkan.

Di Kota Palembang saja sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam, sudah ada beberapa etnis yang menempati berbagai sudut kota. Sebut saja etnis Tionghoa, Arab, India, Melayu dan Jawa. Semuanya berasimilasi dan bertahan selama ratusan tahun, bahkan hingga hari ini.

Beberapa etnis juga mendirikan komunitas dan pemukiman mereka sendiri-sendiri.

Kali ini saya berkunjung ke salah satu pemukiman orang Palembang beretnis Arab yang paling tersohor di Palembang : Kampung Al-Munawwar.

Para penggemar kopi dan photo-hunting tentu sudah tak asing dengan kampung bernuansa vintage di tepian Sungai Musi ini.

Terletak di Kelurahan 13 Ulu, Kampung Al-Munawwar merupakan pemukiman etnis Arab pertama di Kota Palembang. Nama Kampung Al-Munawwar diambil dari nama salah seorang ulama berdarah Arab bernama Habib Abdurrahman Al-Munawwar, ulama yang dulunya berperan menyebarkan Islam di wilayah tersebut. Lambat laun, tempat tinggal Habib Abdurrahman berkembang menjadi sebuah pemukiman komunitas Arab, yang kini dikenal dengan sebutan Kampung Arab 13 Ulu atau Kampung Al-Munawwar.

Di Kampung Al-Munawwar sendiri terdapat delapan bangunan tradisional yang masih dipertahankan bentuk utamanya sejak kampung tersebut didirikan. Masing-masing bangunan berusia tak kurang dari 200 tahun! Bangunan-bangunan epik tersebut meliputi masjid di tepian Sungai Musi, Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah Al-Kautsar, serta rumah-rumah tradisional. Dari segi arsitektur, bangunan-bangunan di Kampung Al-Munawwar, khususnya rumah, menawarkan keunikan tersendiri.

Arsitektur Eropa dan rumah limas tampak seolah bertemu dan saling mengisi di rumah-rumah penduduknya. Salah satu rumah yang paling mencolok adalah “Rumah Batu”, rumah warga pertama yang saya temui ketika memasuki kompleks Kampung Al-Munawwar. Rumah batu sendiri adalah bangunan ketiga yang dibangun di Kampung Al-Munawwar. Disebut Rumah Batu, karena arsitektur rumah tersebut mengadopsi bentuk rumah limas, namun didirikan di atas fondasi batu yang ditinggikan. Konon, Rumah Batu dulunya pernah dijadikan tempat perlindungan penduduk setempat ketika terjadi Perang 5 Hari 5 Malam pada tahun 1947.

Keunikan lain dari Kampung Al-Munawwar juga terdapat pada masyarakatnya. Semua warganya adalah pemeluk Islam. Hal tersebut turut mempengaruhi budaya mereka dalam kehidupan sehari-hari. Penduduk kampung menyekolahkan anak mereka di MI dan MTs Al-Kautsar yang ada di Kampung Al-Munawwar. Hal lain yang unik? Madrasah Al-Kautsar sendiri meliburkan muridnya di Hari Jumat, tapi tetap mengadakan kegiatan belajar-mengajar di Hari Ahad! Persis sekolah di negara-negara Arab.

Check Also

Arab Saudi Rangkul Indonesia Sukseskan Visi 2030

Menteri Media Arab Saudi Awwad S Alawwad mengundang media massa dari Indonesia untuk menjadi bagian …

Leave a Reply

 
royal safari
Joody
Al Sharif tourism
Al Sharif oud
juri
Albasha
aljazeerah restaurant
Zahra Aljazeerah
alsadda
Al Marina
bandar
jumaira
andalus
Villa Raja
sam
shisha
jumbulu